Terinspirasi tulisan Mba Mei, jadi tertarik nih untuk membahasnya lagi, tapi ini murni versi saya dan mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan.
Sebetulnya, menikah itu untuk apa….? yap, menikah bagi saya adalah komitmen. Yang tujuannya adalah :
1. agama (bagi saya yg muslim menikah adalah wajib, kalo sudah siap)
2. kepuasan bathin
3. membahagiakan orang-orang terdekat (terutama orang tua)
Menikah adalah menyatukan dua isi kepala yang berbeda, makanya bagi saya sendiri diperlukan masa perkenalan yang dilanjutkan dengan pendekatan atau pacaran dulu (walau dalam Isalam tidak mengenal ini), realistis saja tanpa pendekatan rasanya kok susah untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.
Kebetulan saya dan calon suami pacaran 1 tahun terus menikah, karena dari awal saya sudah memberitahu bahwa saya mau serius dan ternyata klop calon suami pun demikian. Pacaran adalah masa mengasyikkan, semua keliatan indah.
Oh ya, sebelum menikah saya membuat janji bersama, tidak tertulis sih….cuma untuk diingat aja, bahwa kelak dalam berumah tangga saya tidak mau ada kekerasan kalo ini terjadi lebih baik berpisah, saling terbuka/jujur dan saling membantu/sharing dalam berbagai hal (ini untuk mengantisipasi karena suami anak bungsu yang cuek, pendiam dan manja yang oleh ibunya diperlakukan bak raja).
Dan setelah menikah, barulah aib masing-masing kebuka, saya yang pada dasarnya cerewet dan cenderung galak tidak bisa liat suami cuek. Akhirnya benturan-benturan pun terjadi, namun setelah di kompromikan semua bisa diatasi. Misal melihat saya beres-beres ya suami ikut juga, suami yang mencuci saya bagian menyetrika, maklum saat itu belum punya asisten.
Menjelang 3 tahun saya berumah tangga, alhamdulillah suami sudah banyak berubah tidak lagi cuek, pendiam (masih agak sih…bawaan kali ya….) dan manja apalagi dengan hadirnya anak. Suami pun ikut sharing dalam mengasuh anak, sampai membuat susu di malam hari pun suami yang melakukan. Anak saya memang lebih dekat ke ayahnya karena baik hati, apapun yang diminta selalu dituruti sedangkan saya tidak. Sepertinya masalah pola pengasuhan ini yang belum terpecahkan bagi kami berdua. Masih perlu kompromi lagi, betul kata Mba Mei.