Perempuan itu (3)
Saya pernah menuliskannya disini dan disini.
Sampai sekarang perempuan itu masih setia mengais rejeki dengan anak batitanya di jembatan penyeberangan depan BI.
Tapi lama-lama saya rasa anak batita itu sebagai daya tarik agar orang yang lewat merasa iba akhirnya memberikan uang atau barang kepada dia.
Mengapa….? yeah, kalo dilihat perempuan itu masih kuat usianya masih muda (mungkin lebih tua saya) apa tidak ada pekerjaan lain? atau mungkin pikirnya dengan nyadong itu lebih enak, tinggal duduk orang yang lewat memberikan uangnya. Ah! pemikiran yang sederhana.
Dan mengapa (lagi) perempuan itu kok hamil terus ya…? Dalam kurun waktu 2 tahun ini sudah hamil 3 kali. Hebat kan…? Saya aja kalah hahaha…. ![]()
Lagi-lagi pemikiran yang sederhana ![]()
Di kepala saya saat ini tersimpan banyak sekali pertanyaan, misalnya :
Mau di kemanakan anak-anak yang dilahirkannya itu? dijadikan pengemis juga? atau mau dijual selagi si anak belum tau siapa orang tuanya? entahlah…… ![]()
Kasian sekali kau sayang…..
Karena naluri keibuan, pengin juga saya mengambil salah satu anak-anak itu selagi masih bayi. Tapi…. suami tidak setuju dengan alasan tidak jelas siapa bapaknya. Ya sudahlah….
Kasian dengan anak-anak itu untuk apa dilahirkan kalo akhirnya diajak mengemis lagi…mengemis lagi….
Saya rasa, perempuan itu memang sudah gila.

coba di cek mbak, itu hamilnya beneran atau cuma di sumpel aja biar keliatan seperti hamil
bener kok, soalnya setelah beberapa bulan pasti bawa bayi merah kadang baru berumur 2 minggu.
tapi kadang aku curiga anaknya kadang ganti-ganti. anak cowok yg lahir thn 2006 lalu juga udah ga kelihatan lagi. apa di jual ya?
Comment by mikow — May 6, 2008 @ 2:24 am
bisa aja hamilnya pura2, dan bayinya sewaan. pernah dengar kasus seperti itu kan? aku sama sekali ga respek dengan peminta2 model begitu. jahat mungkin. tapi kl umurnya masih 30an dan masih kuat bekerja, aku rasa banyak pekerjaan yang bisa dilakukan.
emang sih, urusan kita bersedekah, dan soal mereka merendahkan martabat bukan urusan kita. tapi aku jauh lebih suka memberi kepada orang yang sudah mau bekerja keras tapi hidupnya masih susah.
lagian perempuan itu berarti sudah mendidik bayi2 untuk jadi pengemis. sama sekali gak sehat! kalaupun dia terpaksa jadi pengemis, alangkah indahnya jika dia tidak membiarkan anak2nya mengikuti jejaknya.
Comment by latree — May 6, 2008 @ 3:11 am
curhatan busway-ers
Comment by iway — May 6, 2008 @ 6:17 am
Ah! pemikiran yang sederhana.
sama sekali bukan pemikiran yang sederhana dok!
para pejabat masih gembar gembor kerja . .kerja . .kerja
jelas tidak ada lapangan kerja! klo ada satu dua pekerjaan . .
yang 10 juta sisanya mau kerja apa . . .
hmmmm . . . nggak sederhana . . saya mumet dok . .
Comment by ebeSS — May 6, 2008 @ 8:31 am
iya itu betul mbak. sepertinya itu sudah jadi daerah kekuasaannya dia.
di perempatan sarinah juga ada pengemis ibu-ibu. tapi ndak mau kalo dikasih makanan, maunya duit. padahal makanan dari sari pan pasific. aneh kan?
Comment by bangsari — May 6, 2008 @ 8:33 am
ya kayaknya mereka sudah menjadi komoditi. tapi gimana ya.. kadang juga ga tega kan?
Comment by kw — May 6, 2008 @ 10:43 pm
sekarang, agak susah untuk kasihan sama pengemis…..karena seringkali mereka memang malas dan maunya cuma nyadong gitu. Dikasih kerjaan gakmau krn capek dan lebih santai ngemis…….
Comment by jeng endang — May 7, 2008 @ 2:02 am
he he he….macam2 yah mengais rejeki itu???
tapi klo mau ngasih ya ngasih aja…ga usah make dipikirin….bohong2 an ato beneran itu urusan dia dan Yg Maha Kuasa……
Comment by wieda — May 7, 2008 @ 5:27 am
Waduh… Mungkin Sama mereka kita beda grade saja…
Terkadang saya juga Ngemis…
“Tolong donk pak… kami mohon kebijakannya, semua bisa disesuaikan kok. Maaf pak sepertinya sudah waktunya lunch.. bisa kita lanjutkan sambil makan siang pak…” begitu kira-kira bunyinya.
Comment by hasilkebun — May 7, 2008 @ 7:04 am
Ada byk cara untk nolong si anak. Jd anak asuh misalnya? Ah, kalo liat anak2 telantar gt, jd kepikir, apa gak nyesel dia dilahirkan ya
Comment by mpokb — May 12, 2008 @ 12:57 am