PRAKTEK…PRAKTEK…
Kalo disuruh memilih momong anak atau bekerja di dapur, saya memilih di dapur. Di dapur enak mana memasak atau bikin kue…? enak bikin kue. Bagi saya membuat kue itu mempunyai sensasi tersendiri. Loh, berarti tidak suka memasak…? oh, tidak juga. Kalo libur tidak nguli, itu sudah menjadi kewajiban sebagai istri dan ibu yang baik *jangan protes* walaupun menunya itu-itu aja. Yang penting Ayah dan anaknya tidak protes
Tapi lama kelamaan saya yang bosan, sepertinya kok menu masakan itu-itu aja tidak jauh dari sayur lodeh, sayur asem, sayur sup, berbagai macam tumis. Walau kemarin saya berhasil membuat bakso sendiri, yang tentunya lebih enak *jangan protes lagi* .
Dan sebulan yang lalu tidak sengaja lagi browsing resep kue, eh…dapat resep ‘garang asem ayam’ khas Solo (kalo ga salah), ini sih kesukaan mantan pacar ![]()
Saya print kemudian di diskusikan dengan pakar kuliner yang duduk di seberang meja saya, di approve oleh beliau karena bumbunya udah Ok, cuma sarannya kalo ga ada belimbing asem ganti dengan tomat kampung hijau. Sarannya lagi pengin lebih nikmeh tambahin sedikit bubuk kayu manis, pasti lebih makyuss…
Yuk kita nikmati….
Karena tidak menemukan belimbing sayur, saya ganti dengan tomat hijau dan cabe rawit merahnya sengaja saya potong biar ada sedikit sensasi pedasnya. Ternyata rasanya benar-benar makyusss….perpaduan antara gurih santan, segarnya tomat hijau dan pedasnya cabe rawit merah.
Melihat mantan pacar makan dan menikmati ‘garang asem ayam’ ini, saya jadi terharu.
Saya membatin, waduh! ternyata bisa juga ya saya membuatnya tampak rakus ketika makan hahaha….
dan jadi berprasangka buruk, jangan-jangan nanti request masakan ini lagi. Repot bo….
Sedikit mengenang ‘garang asem ayam’ ini, pertamakali menikmatinya tahun 95-an semasa jaman jahiliyah di Semarang dulu, di sebuah rumah makan di daerah Kaligarang seberang asrama polisi Kalisari (namanya lupa) kira-kira 200 m depan RS Kariyadi (masih ada ga ya Mba Latree…?. Saya pikir masakan ini seperti ‘garang asem’ pada umumnya, berbahan dasar daging seperti rawon ada buncis dan cabe merah merahnya (seperti di RM Nglaras Roso, ya tho Mba…?) lah kok pake di bungkus daun, heran. Penasaran saya tanya Ibu, katanya masakan ini khas Solo.
Sampai bertahun-tahun kemudian rasa ‘garang asem ayam’ ini tetap saya ingat.
Terus pas awal-awal kami menikah, mantan pacar cerita kalo di daerah belakang TVRI ada warung yang rame dikunjungi orang saat jam makan siang. Ketika saya tanya menunya apa, mantan pacar bilang ‘garang asem ayam’, langsung saya minta di bawain pulang jangan crita aja, ga afdol
.
Yeah…hampir 5 tahun berlalu, ternyata saya bisa membuat ‘garang asem ayam’ ini. Dan untuk rasa kayaknya enakan punya saya deh, daripada yang di TVRI itu hehehe…. ![]()
Mau coba…? cari sendiri resepnya ![]()
Hayo Jeng Mei….Paduka yang asli Solo sudah dibuatkan ‘garang asem ayam’ belum…? resepnya sudah diterima kan?
